Arief Rahmansyah

Saham untuk Pemula Part 1: Apa Itu Saham?

Istri dan adikku sedang belajar tentang saham. Sebagai suami dan kakak yang baik, aku ingin membantu mereka. Dengan bantuan AI, aku akhirnya membuat seri artikel ini untuk membantu mereka memahami saham. Selamat belajar! 💛

Pernahkah kamu mendengar orang bilang “Aku beli saham Bank BCA” atau “Sahamku naik 20%”? Apa sih sebenarnya saham itu? Kenapa orang-orang membelinya? Dan bagaimana cara kerjanya?

Di seri artikel ini, kita akan belajar tentang saham dari nol. Tenang, kita akan menggunakan bahasa yang sangat sederhana dan analogi dari kehidupan sehari-hari. Yuk, mulai!

Table of Contents

Analogi: Warung Bakso Pak Boga

Bayangkan ada seorang pemilik warung bakso bernama Pak Boga. Baksonya enak banget, sampai-sampai setiap hari ada antrian panjang di warungnya.

Suatu hari, Pak Boga bertekad untuk membuka 10 cabang warung bakso di seluruh kota. Tapi masalahnya, Pak Boga tidak punya cukup uang untuk membuka semua cabang itu sekaligus.

Solusi Pak Boga: Menjual “Bagian” Usahanya

Pak Boga punya ide cemerlang. Dia akan menjual sebagian kepemilikan warung baksonya kepada orang lain. Dengan begitu, dia bisa mendapat uang untuk membuka cabang baru.

Begini caranya:

  1. Pak Boga menghitung nilai seluruh usaha baksonya: Rp100.000.000
  2. Dia memecah kepemilikan usahanya menjadi 1.000 lembar saham
  3. Setiap lembar saham bernilai: Rp100.000.000 ÷ 1.000 = Rp100.000

Mas Dana Tertarik Menjadi Pemilik

Mas Dana adalah pelanggan setia warung bakso Pak Boga. Dia percaya usaha Pak Boga akan semakin sukses. Maka, Mas Dana memutuskan untuk membeli 100 lembar saham warung bakso Pak Boga.

Mas Dana membayar: 100 × Rp100.000 = Rp10.000.000

Sekarang, Mas Dana memiliki 10% kepemilikan di warung bakso Pak Boga!

Mbak Sari Ikut Bergabung

Mbak Sari juga tertarik setelah melihat antrean panjang di warung Pak Boga. Dia membeli 50 lembar saham senilai Rp5.000.000.

Sekarang kepemilikan warung bakso Pak Boga menjadi seperti ini:

Warung Bakso Pak Boga

Total: 1.000 lembar saham

Harga per lembar: Rp100.000

Nilai Perusahaan: Rp100.000.000

Pak Boga (Pendiri): 85.0% Mas Dana: 10.0% Mbak Sari: 5.0% Kepemilikan 100%
👨‍🍳 Pak Boga (Pendiri)
850 lembar (85.0%)
Rp85.000.000
👨‍💼 Mas Dana
100 lembar (10.0%)
Rp10.000.000
👩‍💼 Mbak Sari
50 lembar (5.0%)
Rp5.000.000
Pemilik Jumlah Saham Persentase Nilai
👨‍🍳 Pak Boga (Pendiri)
850 85.0% Rp85.000.000
👨‍💼 Mas Dana
100 10.0% Rp10.000.000
👩‍💼 Mbak Sari
50 5.0% Rp5.000.000
Total 1.000 100% Rp100.000.000

Jadi, Apa Itu Saham?

Dari cerita di atas, kita bisa menyimpulkan:

Saham adalah bukti kepemilikan sebagian dari sebuah perusahaan.

Ketika kamu membeli saham sebuah perusahaan, kamu secara resmi menjadi pemilik sebagian dari perusahaan tersebut. Kecil sih porsinya, tapi gapapa, kita ini perintis bukan pewaris!

Analogi Sederhana

Bayangkan perusahaan seperti sebuah pizza besar. Saham adalah potongan-potongan pizza tersebut. Kalau kamu beli 1 potong dari pizza yang dipotong 8, berarti kamu punya 12.5% dari pizza itu.

pie title Kepemilikan Pizza Perusahaan
    "Pemilik Utama 75%" : 75
    "Investor A 15%" : 15
    "Investor B 10%" : 10

Keuntungan Memiliki Saham

Sebagai pemilik saham (atau disebut pemegang saham), kamu berhak atas:

1. Dividen 💰

Ketika perusahaan untung, keuntungan tersebut bisa dibagikan ke pemegang saham. Ini namanya dividen.

Contoh: Warung bakso Pak Boga untung Rp50.000.000 tahun ini. Pak Boga memutuskan untuk membagikan 20% keuntungan sebagai dividen.

2. Capital Gain (Keuntungan dari Kenaikan Harga Saham) 📈

Kalau perusahaan semakin sukses, nilai sahamnya bisa naik. Kamu bisa menjual sahammu dengan harga lebih tinggi dari harga belimu.

Contoh: Setahun kemudian, warung bakso Pak Boga sudah punya 5 cabang dan sangat sukses. Nilai perusahaan naik menjadi Rp200.000.000.

3. Hak Suara 🗳️

Pemegang saham biasanya punya hak untuk ikut menentukan keputusan penting perusahaan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Risiko Memiliki Saham

Tentu saja, life’s not all sunshine and rainbows. Ada risiko yang harus kamu ketahui:

1. Harga Saham Bisa Turun 📉

Kalau perusahaan tidak perform dengan baik, harga saham bisa turun. Kamu bisa rugi kalau menjual di harga lebih rendah dari harga beli.

Contoh: Ternyata ada warung bakso pesaing yang lebih enak. Pelanggan Pak Boga berkurang. Nilai perusahaan turun jadi Rp80.000.000.

2. Perusahaan Bisa Bangkrut 💀

Dalam kasus terburuk, perusahaan bisa bangkrut dan sahammu menjadi tidak berharga.

3. Tidak Ada Jaminan Dividen

Perusahaan tidak wajib membagikan dividen. Keuntungan bisa saja digunakan untuk ekspansi usaha.

Kenapa Perusahaan Menjual Saham?

Sama seperti Pak Boga, perusahaan menjual saham untuk mendapatkan modal tanpa harus berhutang. Uang dari penjualan saham bisa digunakan untuk:

Perbedaan Saham dan Tabungan

AspekTabunganSaham
RisikoSangat rendahMenengah - Tinggi
Potensi KeuntunganRendah (bunga ~3-5%/tahun)Tinggi (bisa >20%/tahun)
LikuiditasSangat mudah dicairkanCukup mudah (saat pasar buka)
JaminanDijamin LPS (max Rp2M)Tidak ada jaminan
Cocok untukDana darurat, tujuan jangka pendekTujuan jangka panjang

Kesimpulan Part 1

Mari kita rangkum apa yang sudah kita pelajari:

  1. Saham adalah bukti kepemilikan sebagian dari sebuah perusahaan
  2. Membeli saham = menjadi pemilik (sebagian kecil) perusahaan
  3. Keuntungan pemegang saham: dividen dan capital gain
  4. Risiko: harga turun, perusahaan bangkrut, tidak ada jaminan dividen
  5. Perusahaan menjual saham untuk mendapat modal tanpa berhutang

Selanjutnya

Di Part 2, kita akan belajar tentang bagaimana proses jual-beli saham terjadi? Siapa yang mengatur? Dan bagaimana kamu bisa mulai membeli saham? Spoiler alert: Bursa Saham!

Sampai jumpa di artikel berikutnya!


Seri Saham untuk Pemula:


Artikel ini ditulis dengan bantuan AI. Baca selengkapnya di sini.

#finance #investment #stock