Istri dan adikku sedang belajar tentang saham. Sebagai suami dan kakak yang baik, aku ingin membantu mereka. Dengan bantuan AI, aku akhirnya membuat seri artikel ini untuk membantu mereka memahami saham. Selamat belajar! 💛
Pernahkah kamu mendengar orang bilang “Aku beli saham Bank BCA” atau “Sahamku naik 20%”? Apa sih sebenarnya saham itu? Kenapa orang-orang membelinya? Dan bagaimana cara kerjanya?
Di seri artikel ini, kita akan belajar tentang saham dari nol. Tenang, kita akan menggunakan bahasa yang sangat sederhana dan analogi dari kehidupan sehari-hari. Yuk, mulai!
Bayangkan ada seorang pemilik warung bakso bernama Pak Boga. Baksonya enak banget, sampai-sampai setiap hari ada antrian panjang di warungnya.
Suatu hari, Pak Boga bertekad untuk membuka 10 cabang warung bakso di seluruh kota. Tapi masalahnya, Pak Boga tidak punya cukup uang untuk membuka semua cabang itu sekaligus.
Pak Boga punya ide cemerlang. Dia akan menjual sebagian kepemilikan warung baksonya kepada orang lain. Dengan begitu, dia bisa mendapat uang untuk membuka cabang baru.
Begini caranya:
Mas Dana adalah pelanggan setia warung bakso Pak Boga. Dia percaya usaha Pak Boga akan semakin sukses. Maka, Mas Dana memutuskan untuk membeli 100 lembar saham warung bakso Pak Boga.
Mas Dana membayar: 100 × Rp100.000 = Rp10.000.000
Sekarang, Mas Dana memiliki 10% kepemilikan di warung bakso Pak Boga!
Mbak Sari juga tertarik setelah melihat antrean panjang di warung Pak Boga. Dia membeli 50 lembar saham senilai Rp5.000.000.
Sekarang kepemilikan warung bakso Pak Boga menjadi seperti ini:
Total: 1.000 lembar saham
Harga per lembar: Rp100.000
Nilai Perusahaan: Rp100.000.000
| Pemilik | Jumlah Saham | Persentase | Nilai |
|---|---|---|---|
| 👨🍳 Pak Boga (Pendiri) | 850 | 85.0% | Rp85.000.000 |
| 👨💼 Mas Dana | 100 | 10.0% | Rp10.000.000 |
| 👩💼 Mbak Sari | 50 | 5.0% | Rp5.000.000 |
| Total | 1.000 | 100% | Rp100.000.000 |
Dari cerita di atas, kita bisa menyimpulkan:
Saham adalah bukti kepemilikan sebagian dari sebuah perusahaan.
Ketika kamu membeli saham sebuah perusahaan, kamu secara resmi menjadi pemilik sebagian dari perusahaan tersebut. Kecil sih porsinya, tapi gapapa, kita ini perintis bukan pewaris!
Bayangkan perusahaan seperti sebuah pizza besar. Saham adalah potongan-potongan pizza tersebut. Kalau kamu beli 1 potong dari pizza yang dipotong 8, berarti kamu punya 12.5% dari pizza itu.
pie title Kepemilikan Pizza Perusahaan
"Pemilik Utama 75%" : 75
"Investor A 15%" : 15
"Investor B 10%" : 10
Sebagai pemilik saham (atau disebut pemegang saham), kamu berhak atas:
Ketika perusahaan untung, keuntungan tersebut bisa dibagikan ke pemegang saham. Ini namanya dividen.
Contoh: Warung bakso Pak Boga untung Rp50.000.000 tahun ini. Pak Boga memutuskan untuk membagikan 20% keuntungan sebagai dividen.
Kalau perusahaan semakin sukses, nilai sahamnya bisa naik. Kamu bisa menjual sahammu dengan harga lebih tinggi dari harga belimu.
Contoh: Setahun kemudian, warung bakso Pak Boga sudah punya 5 cabang dan sangat sukses. Nilai perusahaan naik menjadi Rp200.000.000.
Pemegang saham biasanya punya hak untuk ikut menentukan keputusan penting perusahaan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Tentu saja, life’s not all sunshine and rainbows. Ada risiko yang harus kamu ketahui:
Kalau perusahaan tidak perform dengan baik, harga saham bisa turun. Kamu bisa rugi kalau menjual di harga lebih rendah dari harga beli.
Contoh: Ternyata ada warung bakso pesaing yang lebih enak. Pelanggan Pak Boga berkurang. Nilai perusahaan turun jadi Rp80.000.000.
Dalam kasus terburuk, perusahaan bisa bangkrut dan sahammu menjadi tidak berharga.
Perusahaan tidak wajib membagikan dividen. Keuntungan bisa saja digunakan untuk ekspansi usaha.
Sama seperti Pak Boga, perusahaan menjual saham untuk mendapatkan modal tanpa harus berhutang. Uang dari penjualan saham bisa digunakan untuk:
| Aspek | Tabungan | Saham |
|---|---|---|
| Risiko | Sangat rendah | Menengah - Tinggi |
| Potensi Keuntungan | Rendah (bunga ~3-5%/tahun) | Tinggi (bisa >20%/tahun) |
| Likuiditas | Sangat mudah dicairkan | Cukup mudah (saat pasar buka) |
| Jaminan | Dijamin LPS (max Rp2M) | Tidak ada jaminan |
| Cocok untuk | Dana darurat, tujuan jangka pendek | Tujuan jangka panjang |
Mari kita rangkum apa yang sudah kita pelajari:
Di Part 2, kita akan belajar tentang bagaimana proses jual-beli saham terjadi? Siapa yang mengatur? Dan bagaimana kamu bisa mulai membeli saham? Spoiler alert: Bursa Saham!
Sampai jumpa di artikel berikutnya!
Seri Saham untuk Pemula:
Artikel ini ditulis dengan bantuan AI. Baca selengkapnya di sini.